Mahabharat, (or Mahabharata as it is known in English), is the longest poem in the world, made up of 220,000 lines divided into 18 sections. It was written in Sanskrit, the ancient sacred language of India and it tells the story of a great battle that occurred about 3000 years back. It was on the banks of river Saraswati that saint Ved Vyas wrote Mahabharat, approximately in 900 BC. Lord Krishna preached 'Bhagvad Gita', the gospel of duty, to Arjun at the on set of the great battle of Mahabharat. Since then, this profound philosophy of the supremacy of duty has became the foundation of Hinduism, Indian culture and thought. The Mahabharat knows Haryana as "Bahudhhanyaka" - The land of plentiful grains, and "Bahudhana" - The land of immense riches.
Dhritarashter and Pandu were born to Bhisham's brothers. Dhritarashter was born blind and though the elder, he had to forfeit his claim to the throne due to this physical defect. Pandu became king. Of the two brothers Dhritarashter married Gandhari, whereas Pandu, the younger had two wives, Kunti and Madri. Gandhari was so devoted to her husband that she bandaged her eyes, not to enjoy anything that she could not share with her royal husband, and thus remained voluntarily blind for life. She became the mother of the Kouravs, 100 in total, whereas Kunti got three sons and Madri two.
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Kamis, 22 Juli 2010
Dasavatara: Sepuluh Avatar Dewa Vishnu
Agama Hindu menyatakan bahawa adanya Dasa Avatar yang sangat terkenal di antara avatar-avatar lainnya. Dasa Avatar adalah sepuluh Avatar yang diyakini sebagai penjelmaan material Dewa Vishnu dalam misi menyelamatkan dunia. Dari sepuluh Avatar, sembilan diantaranya diyakini sudah pernah menyelamatkan dunia, sedangkan satu di antaranya, Avatar terakhir (Kalki Avatar), masih menunggu waktu yang tepat (konon pada akhir Kali Yuga) untuk turun ke dunia. Kisah-kisah Avatar tersebut terangkum dalam sebuah kitab yang disebut Purana.
Sepuluh Avatar itu adalah:
- Matsya Avatar, sang ikan, muncul saat Satya Yuga
- Kurma Avatar, sang kura-kura, muncul saat Satya Yuga
- Waraha Avatar, sang babi hutan, muncul saat Satya Yuga
- Narasimha Avatar, manusia berkepala singa, muncul saat Satya Yuga
- Wamana Avatar, sang orang cebol, muncul saat Treta Yuga
- Parasurama Avatar, sang Rama bersenjata kapak, muncul saat Treta Yuga
- Rama Avatar, sang ksatria, muncul saat Treta Yuga
- Krishna Avatar, putra Wasudewa, muncul saat Dwapara Yuga
- Buddha Avatar, pangeran Siddharta Gautama, muncul saat Kali Yuga
- Kalki Avatar, sang pemusnah, muncul saat Kali Yuga
Senin, 19 Juli 2010
JEJAK Tantra di INDONESIA
Mungkin sebagian dari kita masih ada yang kurang paham: apa Tantrayana itu, agama atau sekte dari sebuah agama? Lalu, adakah hubungannya dengan Buddha atau Hindu? Tentu ada karena ternyata Tantrayana merupakan perkembangan dari agama Hindu-Siwa dan Buddha itu sendiri. Maka dari itu, mari kita telusuri sekilas sejarah kemunculan Tantrayana ini.
Perpaduan Hindu Siwaisme dengan Buddha Mahayana
Dasar-dasar paham Tantra sebenarnya telah ada di India sebelum bangsa Arya datang di India, jadi sebelum kitab Weda tercipta. Pada masa itu, di peradaban lembah Sungai Sindu, cikal-bakal paham Tantra telah terbentuk dalam praktik pemujaan oleh bangsa Dravida terhadap Dewi Ibu atau Dewi Kemakmuran. Dalam salah satu seloka lagu pujaan, Dewi ini dilukiskan sebagai penjelmaan kekuatan (sakti) penyokong alam semesta. Timbullah paham Saktiisme, atau disebut jugaKalaisme, Kalamukha, atau Kalikas (Kapalikas), yang dianut oleh penduduk asli India tersebut. Karena pengikut sekte ini kebanyakan penduduk asli India, maka oleh bangsa Arya disebut Sudra Kapalikas.
Perpaduan Hindu Siwaisme dengan Buddha Mahayana
Dasar-dasar paham Tantra sebenarnya telah ada di India sebelum bangsa Arya datang di India, jadi sebelum kitab Weda tercipta. Pada masa itu, di peradaban lembah Sungai Sindu, cikal-bakal paham Tantra telah terbentuk dalam praktik pemujaan oleh bangsa Dravida terhadap Dewi Ibu atau Dewi Kemakmuran. Dalam salah satu seloka lagu pujaan, Dewi ini dilukiskan sebagai penjelmaan kekuatan (sakti) penyokong alam semesta. Timbullah paham Saktiisme, atau disebut jugaKalaisme, Kalamukha, atau Kalikas (Kapalikas), yang dianut oleh penduduk asli India tersebut. Karena pengikut sekte ini kebanyakan penduduk asli India, maka oleh bangsa Arya disebut Sudra Kapalikas.
Langganan:
Postingan (Atom)